Pemesanan,
SMS
ke 0878-260000-53,
Formatnya: Novel: Pesantren Sawahan # NAMA # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH BUKU # NO
HP.
Murah! Cuma Rp 50.000,- (belum ongkir).
Novel “Pesantren
Sawahan” Buku ini adalah novel bertema religi
motivasi. Bercerita tentang lika-likunya kehidupan seorang pemuda yang sedang
mempelajari ilmu tasawuf untuk mendalami muara hakekat dan menyelami lautan
makrifat dengan menjadi seorang sufi yang senantiasa betthareqoh kepada Allah
Azza Wa Zalla.
Sinopsis Novel: Pesantren Sawahan
Namanya Abdul Muis,
akrab disapa Muis, ia dilahirkan sebagai seorang bocah kampung biasa dan hidup
di Dusun Besuki, sebuah desa di lereng kaki Gunung Sumeru. Ketika Muis baru
lulus Sekolah Dasar (SD), oleh ayahnya ia disarankan untuk mondok di luar
Malang, nyantri di Pondok Modern Al Hidayah Ponorogo. Setelah enam tahun
nyantri di Ponorogo, Muis lulus dari Kulliyatul Mu'alimin Al-Islamiah
(KMI) dengan hasil memuaskan. Muis bisa pulang ke Malang dan mewujudkan
mimpinya kuliah di kedokteran.
Terbiasa dengan lingkungan pondok modern
yang bukan hanya mengkaji ilmu pengetahuan umum tapi juga ilmu pengetahuan
agama. Rasanya seperti ada yang kurang ketika di kampus Muis hanya fokus pada
kuliah dan jauh dari dunia pesantren. Di tengah kegamangannya itu, secara
kebetulan Muis menemukan sebuah pondok salaf dari pucuk gunung binaan Kyai
Fadhillah, Pesantren Sawahan, Nganjuk. Muis kemudian menjadi santri terbang di
sana. Bila di Pondok Modern Al Hidayah Muis digembleng secara inteletual
keagamaan, di pondok tradisional itu Muis bersemangat mendalami tasawuf dengan
mengamalkan thoreqoh untuk memperluas wawasan spiritual keagamannya.
Muis bersemangat dengan kesehariannya
sebagai musafir muda penuntut ilmu. Menjadi mahasiswa kedokteran sambil
menjejaki diri sebagai seorang sufi yang gemar berzuhud. Muis banyak mendapat
pengetahuan spiritual dan tidak semua orang bisa mengerti tentang pengalaman
bathin yang dialami. Selain mursyidnya Kyai Fadhillah, Muis juga banyak
memiliki mentor spiritual keagaamaan yang selalu siap sedia bila diajak
berdiskusi perihal berjubelnya pertanyaan di kepala Muis. Sampai akhirnya Muis
bisa menentukan kemana kapal tarekatnya akan berlabuh setelah berlayar ke
lautan hakekat, kemudian mengarungi luasnya samaudra makrifat, lalu menjangkar
di dalam kefanaan-Nya, ialah kembali ke dermaga syareat dengan mercusuar
sholawat. (Penulis: Ali Ridwan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar